terus terang aku wong desa ra sekolah/ asal: dukuh kali salam/dusun petir Desa kebondalem Kc:bawang Kb: banjarnegara
Minggu, 08 Januari 2012
Analisa Usaha Budidaya Singkong Dijelaskan Baum, dilihat dari analisa usaha budidaya singkong. Dari hasil produksi petani dengan cara tradisional, biasanya jarak tanam 1 meter X 1 meter, jumlah populasi 10 ribu batang per hektare, menghasilkan 2 kg per batang sehingga hasil produksi seluruhnya 20 ton per hektare. Kemudian dijual dengan harga Rp. 350,- per kilogram. Dihitung, Rp. 350 X 20 ton = Rp. 7.000.000.-. Biaya produksi dengan cara petani tradisional Rp. 3.500.000,- per hektare. Sedangkan, lanjut Baum lagi, kalau dilakukan dengan cara system Mukibat atau inovasi teknologi pertanian, biaya operasional produksi Rp. 15 juta per hektare, hasil produksi dengan jarak tanam 1,5 meter X 1,5 meter dengan jumlah populasi 4360 batang per hektare, menghasilkan 30 Kg per batang, sehingga hasil seluruhnya 120 ton per hektare. Dihitung Rp. 350,- X 120 ton = Rp. 42 juta. Dari hasi itu, kata Baum, petani mempunyai pendapatan selama 10 bulan, Rp. 42 juta (hasil produksi) dikurangi Rp. 15 juta (biaya produksi) = Rp. 27 juta, jadi pendapatan per bulan petani Rp. 2,7 juta. Untuk itu, imbuh Baum, dengan telah berdirinya pabrik Bio Etanol di Kecamatan Cikulur, diharapkan para petani di Cikulur tidak menjadi penonton. Petani di Cikulur harus menjadi pemasok kebutuhan pabrik Bio Etanol, sehingga dengan sendirinya dapat meningkatkan tarap hidup ekonomi petani dan tingkat kesejahteraan petani di Kecamatan Cikulur. “Saya berharap para petani di Cikulur menjadi penikmat keberadaan Pabrik Bio Etanol dengan memasok kebutuhan pabrik tersebut. Amat disayangkan apabila pemasok kebutuhan pabrik dipenuhi oleh petani luar Kecamatan Cikulur,” kata Baum. Sementara itu, Ketua Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Cigoong Selatan, Oni Madroni saat ditemui penulis dikediamannya, menyambut gembira dengan adanya program yang terfokus pada sektor pertanian. Menurutnya, program kegiatan budidaya singkong memiliki prospek yang baik serta dapat meningkatkan pendapatan ekonomi para petani, sehingga tidak menutup kemungkinan petani akan beralih usaha budidaya singkong. “Pada intinya, kami menyambut gembira terhadap program yang terfokus pada sektor pertanian. Kami menilai, pengembangan usaha budidaya singkong memiliki prospek yang baik bagi petani dalam upaya peningkatan pendapatan ekonomi dan kesejahteraan petani. untuk itu, kami akan mendukung dan mengikuti melaksanakan program tersebut,” kata
Kamis, 05 Januari 2012
Riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu selatan jembatan Clangkap. Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali. Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggal yang baru. Dari hari ke hari kian ramai dengan para pendatang yang kemudian mendirikan rumah disekitar tempat tersebut sehingga membentuk seatu perkampungan. Kemudian perkampungan yang baru dinamai “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Petinggi (Kepala desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”. Keramian dan kemajuan desa Banjar di bawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit, dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Isalam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri, raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko. Sejak kedatangan Pengeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam dan menjadi desa Banjar.Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan ramai. Desa Banjar yangdidirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.(Disadur dari Buku Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya,Obyek Wisata dan Seni Budaya yang disusun oleh Drs. Adi Sarwono, disusun kembali oleh Sekretariat Panitia HUT RI dan Hari Jadi ke-175 Banjarnegara 2006).
Langganan:
Komentar (Atom)