terus terang aku wong desa ra sekolah/ asal: dukuh kali salam/dusun petir Desa kebondalem Kc:bawang Kb: banjarnegara
Kamis, 05 Januari 2012
Riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu selatan jembatan Clangkap. Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali. Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggal yang baru. Dari hari ke hari kian ramai dengan para pendatang yang kemudian mendirikan rumah disekitar tempat tersebut sehingga membentuk seatu perkampungan. Kemudian perkampungan yang baru dinamai “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Petinggi (Kepala desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”. Keramian dan kemajuan desa Banjar di bawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit, dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Isalam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri, raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko. Sejak kedatangan Pengeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam dan menjadi desa Banjar.Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan ramai. Desa Banjar yangdidirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.(Disadur dari Buku Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya,Obyek Wisata dan Seni Budaya yang disusun oleh Drs. Adi Sarwono, disusun kembali oleh Sekretariat Panitia HUT RI dan Hari Jadi ke-175 Banjarnegara 2006).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Setelah Adipati Manguntudo I wafat,
BalasHapusdisebutkan bahwa pengganti Bupati Banjar
Petambakan adalah puteranya yang bergelar
R. Ngabehi Mangunyudo II, yang dikenal
dengan R. Ngabehi Mangunyudo Sedo Mukti. Diera kepemimpinannya, Kabupaten
dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu
dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu
Pertama, yang kemudian digantikan oleh
puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei
Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei
Mangunbroto,Bupati Anom Banjar Selolembu.
Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei
Mangunbroto wafat karena bunuh diri. Pengganti adalah R.T. Mangunsubroto yang
memerintah Kabupaten Banjar Watu Lembu
(Banjar selo Lembu). R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati
Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian
digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R.
Ngabei Mangunyudo III yang kemudian
berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei
Mangunyudo, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumberyang sama R. Ngabei
Mangunbroto wafat karena bunuh
diri.Penggantinya adalah R.T.Mangunsubroto
yang memerintah Kapubaten Banjar
Watulembu sampai tahu 1931. Karena
Kabupaten Banjar Watulembu sangat antipati terhadap Belanda, setelah perang Diponegoro
di mana kemenangan dipihak Belanda,
Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan
statusnya menjadi Distrik dengan dua
penguasa yaitu R. Ngabei Mangunsubroto dan
R. Ng. Ranudirejo.
Dalam sumber sejarah disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R.
BalasHapusNgabehi Kenthol Kertoyudo yang kemudian
bergelar R. Ngabehi Mangunyudo II. Dalam
perang Diponegoro lebih dikenal dengan R.
Tumenggung Kertonegoro III atau
Mangunyudo Mukti. Pada masa pemerintahan, Kabupaten dipindahkan ke
sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian
dinamakan Kabupaten “Banjar
Watulembu“. Sikap Adipati Mangunyudo II yang sangat anti
terhadap Belanda dan bahkan turut
memperkuat pasukan Diponegoro dalam
perang melawan Belanda (di mana perang
tersebut berakhir dengan kemenangan di
pihak Belanda), berakibat R.Ngabei Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati Banjar
Watulembu, dan pada saat itu pula status
Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan
menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R.
Ngabei Mangun Broto dan R. Ngabei
Ranudirejo. Terlepas sumber yang benar, para pemimpin/Bupati Banjar mulai
Mangunyudo I sampai yang terakhir
Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semua
anti penjajah Belanda. KABUPATEN BANJAR PETAMBAKAN Kyai Ngabehi Wiroyodo merupakan Bupati
Banjar Petambakan pertama yang
memerintah pada kurang lebih tahun 1582
(melihat pendirian Pendopo Kabupaten
Banyumas di Kejawaran oleh Warga Hutomo
II,yang merupakan salah satu pecahan dari Kabupaten Wirasaba tercatat tahun 1582). Namun siapa pengganti Kyai Ngabei
Wiroyudo sampai R. Ngabehi Banyakwide
diangkat sebagai Kliwon Banyumas yang
bermukim di Banjar Petambakan tidak
diketahui, karena tidak ada/belum
ditemukan sumber/catatan tertulis. Ada kemungkinan Kabupaten Banjar Petambakan
di bawah Kyai Ngabei Wiroyuda tidak
berkembang seperti halnya Kabupaten
Merden yang diperintah R. Ngabei
Wirakusuma.Tidak demikian halnya dengan
Kabupaten Banyumas (Daerah Kejawar) di bawah pemerintahan R. Adipati Wargo
Hutomo II yang bertahan dan terus
berkembang. R. Banyakwide adalah putra R. Tumenggung
Mertoyudan (Bupati Banyumas ke 4). Dari sini
terlihat bahwa seama 3 (tiga) periode
kepemimpinan Bupati di Kabupaten
Banyumas (setelah Wargo Hutomo II) sampai
dengan Bupati ke 4 (R.T. Mertoyudo), Kabupaten Banjar Petambakan tidak tercatat
ada yang memerintah. Karena cukup lama
tidak ada yang memerintah, maka setelah
diangkatnya R. Banyakwide sebagai Kliwon
Banyumas tetapi bermukim di Banjar
Petambakan, ada yang menyebut Banyakwide adalah Bupati Bajar Petambakan
Pertama setelah Pemerintahan Ngabehi
Wiroyudo. R. Banyakwide mempunyai 4 (empat) putra,
yaitu : 1. Kyai Ngabei Mangunyudo 2. R. Kenthol Kertoyudo 3. R. Bagus Brata 4. Mas Ajeng Basiah
Sepeninggal R. Banyakwide Kabupaten Banjar
BalasHapusPetambakan diperintah oleh R. Ngabei
Mangunyudo I yang kemudian dikenal
dengan julukan Hadipati Mangunyudo sedo
Loji (Benteng), karena beliau gugur di loji
saat perang melawan Belanda di Kertosuro. Kebenciannya terhadap Belanda ditunjukan
sewaktu ada geger perang Pracino (pecinan)
yaitu pemberontakan oleh bangsa Tionghoa
kepada VOC saat Mataram dipimpin Paku
Buwono II. R. Ngabehi Mangunyudo I sebagai Bupati
manca minta ijin untuk menghancurkan Loji
VOC di Kertasura. Paku Buwono II
mengijinkan dengan satu permintaan agar R.
Ngabehi Mangunyudo tidak membunuh
pasangan suami istri orang Belanda yang berada di Loji paling atas. Akhirnya perangpun terjadi antara prajurit
Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun
1743). Melihat prajuritnya banyak yang
tewas, Adipati Mangunyudo I marah, seluruh
penghuni Loji dibunuhnya, bahkan beliu lupa
pesan Sri Susuhunan Pakubuwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di
bagian atas Loji, maka R.Mangunyudo I
mengejar dan berusaha membunuh pasangan
suami istri orang Belanda, yang sebenarnya
adalah Pakubowono II dan Permasuri yang
sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya
membunuh Adipati Mangunyudo I yang
sedang kalap di Loji VOC tersebut. Sebab
itulah kemudian Adipati Mangunyudo I
dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo
Sedo Loji. KABUPATEN BANJARNEGARA Karena selama perang Diponegoro dapat
mengatasi pasukan Pangeran Diponegoro
yang dibantu oleh pasukan dari Kabupaten
Banjarwatulembu yang dibantu oleh pasukan
Kabupaten (pada waktu itu terdapat ikatan
perjanjian dengan Ngabei di Purbolinggo dan kemudian diangkat menjadi Tumenggung
selama 25 tahun, oleh Belanda diusulkan
menjadi Bupati Banjar ( Banjar Watulembu).
Setelah mendapat ijin, maka berdasarkan
Resolutie Governeur General Buitenzorg
tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi
menjabat Bupati Banjar Watulembu. Beberapa saat setelah pengangkatannya,
Raden Tumenggung Dipoyudho IV meminta
ijin kepada Paku Buwana VII di Kasunanan Surakarta untuk memindahkan kota
kabupaten ke sebelah selatan Sungai Serayu.
Setelah permintaan tersebut dikabulkan,
maka dimulailah pembangunan kota kabupaten yang semula berupa daerah
persawahan. Untuk mengenang asal mulai
Kota Kabupaten baru yang berupa
persawahan dan telah dibangun menjadi kota, oleh Raden Tumenggung Dipoyudho IV,
Kabupaten Baru tersebut diberi nama
“BANJARNEGARA” ( mempunyai maksud Sawah=Banjar, berubah menjadi kota=negara ) sampai sekarang. Setelah
segala sesuatu siap, Raden Tumenggung
Dipoyudo IV sebagai Bupati beserta semua
pegawai Kabupaten pindah dari Banjar
Watulembu ke kota yang baru Banjarnegara. Dikarenakan pada saat pengangkatannya status
Kabupaten Bajar Watulembu yang terdahulu telah dihapus,
maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV
dikenal sebagai Bupati Banjarnegara I (Pertama). Peristiwa Pengangkatan Raden
Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22
Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk
menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, yaitu dengan Keputusan Hari
Jadi Kabupaten Banjarnegara tanggal 1 Juli 1981 dan Peraturan Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.